Edy Wuryanto Soroti Akurasi Data dan Resiko 45 Juta Warga Miskin Berpotensi Kehilangan BPJS

Avatar photo

- Wartawan

Senin, 23 Februari 2026 - 07:33

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Instagram Edy Wuryanto

Instagram Edy Wuryanto

BLORA, BLORABARU.COM Perubahan basis data sosial dari DTKS ke DTSEN dinilai memicu pergeseran besar kepesertaan BPJS Kesehatan, yang berdampak pada potensi hilangnya perlindungan bagi sekitar 45 juta warga miskin.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyebut Universal Health Coverage (UHC) salah satu indikatornya itu seluruh penduduk wajib menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Dalam Undang-Undang Dasar, kesehatan wajib bisa diakses seluruh penduduk. Orang miskin menjadi kewajiban negara, baik pusat maupun daerah,” tegas Edy, di kantor DPC PDI Perjuangan Blora. Minggu, 22/2/2026

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Edy, perubahan basis data dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) menjadi Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) diharapkan mampu memotret kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih presisi, terutama pada kelompok desil satu hingga lima.

Namun dalam praktiknya, peralihan ini justru memicu pergeseran signifikan.

Sekitar 15 juta orang yang dinilai mampu masuk ke dalam kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI).

“Sebaliknya, sekitar 45 juta warga miskin yang hingga kini mungkin tidak mendapatkan jaminan BPJS Kesehatan,” sebutnya.

Baca Juga :  Peringati Hari Pahlawan, Rumah Zakat Salurkan Bantuan Ternak Kambing di Desa Sempu Blora

Untuk itu, ia mendorong harus ada perbaikan, DTSEN harus menjadi kunci penentuan apakah orang miskin berhak memperoleh PBI atau tidak.

Ini merupakan kewenangan Kementerian Sosial dan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Artinya, yang bisa menyelesaikan persoalan ini adalah Mensos, BPS, Mendagri, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten,” ujar Edy.

Politisi PDI Perjuangan tersebut menekankan, proses pendataan harus mengedepankan instrumen yang valid dan reliabel.

Valid berarti mampu memotret kondisi riil masyarakat, sedangkan reliable digunakan apapun hasilnya harus sama.

“Ini tantangan besar bagi Kemensos, BPS, dan Kemendagri. Tanpa data yang valid dan reliabel, kebijakan jaminan kesehatan akan terus bermasalah,” jelasnya.

Selain itu, Edy juga menyoroti sekitar 11 juta peserta BPJS PBI yang dinonaktifkan.

Ia meminta pemerintah memastikan secara cermat apakah mereka benar-benar tergolong masyarakat mampu atau tidak.

“Kalau ada orang miskin di angka 11 juta itu, harus segera direaktivasi. Kuncinya ada di Mensos, Dinas Sosial kabupaten seluruh Indonesia dan BPS,” katanya melanjutkan.

Baca Juga :  Edy Wuryanto Kawal MBG di Blora : Gizi Naik, Ekonomi Lokal Bergerak

Pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan bagi kelompok yang dinonaktifkan.

Hal ini penting untuk mencegah dampak serius, terutama bagi masyarakat yang sedang menjalani pengobatan penyakit kronis.

“Untuk itu kami harus meminta waktu bagi pemerintah 11 juta agar diberikan masa transisi 3 bulan, Jangan ujug-ujug dinonaktifkan tanpa komunikasi. Masyarakat pasti kaget dan protes, apalagi yang sedang sakit kronis,” pintanya

Politisi dua periode ini juga mengapresiasi langkah Kemenkes dan BPJS yang sudah melakukan reaktivasi otomatis bagi 106 ribu penderita penyakit kronis.

Atas kondisi tersebut, ia kembali mengingatkan pemerintah daerah agar tidak mengurangi alokasi PBI yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau Penerima Bukan Penerima Upah (PBPU) APBD.

Meskipun, kemampuan fiskal daerah menurun akibat berkurangnya transfer pusat.

“Saya berharap Blora, dalam situasi sesulit apapun, jangan mengurangi PBI APBD. Itu kebutuhan orang miskin dan kewajiban daerah. Jika perlu, lakukan efisiensi pada pos lain,” demikian pungkas Edy Wuryanto, Politisi Dapil Blora, Grobogan, Rembang dan Pati.

Berita Terkait

Kenaikan Harga Pertamina Dex Ancam Distribusi Air Bersih BPBD Blora, Jatah Bantuan Berpotensi Berkurang
BPBD Blora Petakan Desa Terdampak Kekeringan, Armada Tangki Air Bersih Disiagakan
BAZNAS Blora Salurkan Gerobak Usaha dan Dana Sosial, Penerima Sebut Proses Mudah dan Berdampak bagi Ekonomi Keluarga
Baznas Blora Kembali Salurkan Rp.300 Juta untuk Beasiswa Siswa Kurang Mampu, Fokus Penuhi Kebutuhan Tahun Ajaran Baru
PKB Sambangi Keluarga Korban di Blora, Luruskan Informasi yang Beredar
GASTRA Blora Makin Berdampak, 2.657 Penerima Manfaat dan 815 Anak Yatim Disantuni
Perbedaan Parkir Umum dan Parkir Khusus di Blora Menurut Perda
Ribuan Peserta Tumpah Ruah di Jalan Sehat Massal HUT PPDI Blora, Honda Beat Jadi Rebutan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:34

Kenaikan Harga Pertamina Dex Ancam Distribusi Air Bersih BPBD Blora, Jatah Bantuan Berpotensi Berkurang

Kamis, 2 Juli 2026 - 19:30

BPBD Blora Petakan Desa Terdampak Kekeringan, Armada Tangki Air Bersih Disiagakan

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:11

BAZNAS Blora Salurkan Gerobak Usaha dan Dana Sosial, Penerima Sebut Proses Mudah dan Berdampak bagi Ekonomi Keluarga

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:05

Baznas Blora Kembali Salurkan Rp.300 Juta untuk Beasiswa Siswa Kurang Mampu, Fokus Penuhi Kebutuhan Tahun Ajaran Baru

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45

PKB Sambangi Keluarga Korban di Blora, Luruskan Informasi yang Beredar

Berita Terbaru