Momentum Hardiknas, DPRD Blora Dorong Pendidikan Berbasis Akhlak dan Keteladanan Bukan Sekedar Transfer Ilmu

oleh
oleh
Wakil Ketua Komisi D DPRD Blora, Ahmad Fahim Mullaby ditemui diruang komisi.

BLORA, BLORABARU.COM – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Blora dihadapkan pada pekerjaan peningkatan kualitas pendidikan dan  moralitas murid.

“Sejauh ini pendidikan di Blora sudah berjalan baik, tetapi kualitasnya harus ditingkatkan agar tak tertinggal dari kabupaten lain,” tegas Wakil Ketua Komisi D DPRD Blora, Ahmad Fahim Mullaby, saat dimintai tanggapan soal momentum Hari Pendidikan Nasional 2025. Jumat kemarin, 2/5/2025.

Komisi D, kata Gus Fahim, akan terus mengawal dan bersinergi dengan Dinas Pendidikan (Diknas) untuk memastikan program-program pendidikan berjalan efektif.

Baca Juga :  Bupati Blora Launching 295 Koperasi Merah Putih, Dorong Ekonomi Desa Lebih Bergerak

Salah satu program prioritas yang ia dorong adalah Sekolah Sisan Ngaji (SSN), sebuah pendekatan integratif yang menggabungkan pendidikan formal dan pembinaan keagamaan.

“Sebagai pribadi yang berbasis pesantren, saya ingin SSN ini bukan sekadar simbol, tapi benar-benar diperkuat,” ujarnya.

Ia pun menekankan bahwa dunia pendidikan kini menghadapi krisis yang lebih dalam yakni krisis moral.

Baca Juga :  Ketua DPRD Blora : Konflik Lahan Hutan, Petani dan Perhutani Capai Kesepakatan

Menurutnya, guru tak cukup hanya mengajar. Mereka harus mendidik dan menjadi contoh nyata bagi peserta didik.

“Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi soal keteladanan. Ini yang makin langka. Murid-murid butuh panutan, bukan hanya pengajar yang fasih bicara namun juga memberi teladan dan contoh yang baik,” tandasnya.

Ia menyayangkan jika masih ada guru yang menyampaikan nilai-nilai moral di kelas, tapi gagal mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam keterangannya, Gus Fahim menggarisbawahi infrastruktur pendidikan di Blora memang sudah mulai merata.

Baca Juga :  Lapak Liar di Blora Disapu Satpol PP

Bahkan pondok pesantren pun telah mendapat perhatian. Namun, semua itu tidak akan berarti jika aspek moral diabaikan.

“Saya lebih melihat moral, kalau orang pintar sekarang sudah banyak. Tetapi moralitas harus kita kawal.” lanjutnya.

“Ujung tombaknya guru harus jadi contoh dan panutan yang baik bagi muridnya, artinya moralitas tidak hanya sekedar dengan kata – kata tetapi juga dengan tindakan,” pungkasnya.