BLORA, BLORABARU.COM Upaya reformasi birokrasi dan transformasi layanan yang konsisten mengantarkan RSUD R. Soetidjono Blora meraih penghargaan Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas Korupsi (WBK) Tahun 2025 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).

Penghargaan ini menjadi tonggak penting reformasi tata kelola rumah sakit daerah dalam meningkatkan mutu pelayanan publik, transparansi, dan akuntabilitas.

Kepala RSUD R. Soetidjono Blora, dr. Puji Basuki, mengatakan pembangunan zona integritas dilakukan melalui perubahan di enam area utama, yakni penguatan sumber daya manusia (SDM), peningkatan kualitas pelayanan.

Serta, perbaikan tata kelola rumah sakit, penguatan pengawasan, pengelolaan gratifikasi, serta penguatan akuntabilitas kinerja.

RSUD R. Soetidjono ditunjuk oleh Pemkab Blora pada 2024 untuk membangun zona integritas. Alhamdulillah, dengan upaya serius dan fokus pada perubahan, kami lolos dan meraih Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi Tahun 2025 dari KemenPAN RB, ” ungkap dr. Puji kepada blorabaru.com Senin, 9/2/2026.

Menurut dr. Puji, penghargaan ini menjadi pondasi awal dalam membangun sistem rumah sakit yang bermutu, khususnya pada aspek pelayanan.

Dengan sistem yang lebih tertata, rumah sakit optimistis mampu melangkah menuju predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

“Dengan award ini, semangat kami dan seluruh tim semakin meningkat untuk terus memperbaiki pelayanan. Target kami berikutnya adalah WBBM,” katanya.

Dalam proses menuju ZI WBK, lanjut dr. Puji RSUD R. Soetidjono menerapkan sejumlah strategi utama, antara lain peningkatan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), efisiensi proses kerja, serta peningkatan mutu layanan berbasis digital.

Salah satu inovasi unggulan adalah aplikasi digital “Dolan Soetidjono” yang dinilai efektif menekan biaya operasional sekaligus mempercepat layanan.

Melalui sistem ini, belanja cetak dan rumah tangga yang sebelumnya mencapai Rp1,3 miliar per tahun, pada 2025 turun drastis menjadi di bawah Rp. 300 juta.

Dolan Soetidjono sangat membantu efisiensi, terutama dari sisi belanja rumah tangga dan cetak. Ini bagian dari upaya kami membangun sistem kinerja berbasis digital,” jelas melanjutkan.

Tak hanya efisiensi anggaran, inovasi ini juga berdampak signifikan pada kecepatan pelayanan.

Artinya, waktu layanan pasien yang sebelumnya rata-rata di atas dua jam, kini dapat dipangkas menjadi kurang dari satu jam, terhitung sejak pasien datang hingga selesai mendapatkan pelayanan.

Diakuinya, bahwa proses perolehan penghargaan ZI WBK sendiri telah melalui tahapan panjang sejak 2024, meliputi persiapan dokumen, pembenahan sistem, hingga inovasi layanan yang berkelanjutan.

Selama Tahun 2025, rumah sakit secara intensif melakukan evaluasi dan perbaikan untuk memenuhi seluruh indikator penilaian.

“Selama satu tahun kami fokus melakukan pembenahan dan inovasi. Alhamdulillah, hasilnya RSUD R. Soetidjono lolos penilaian dan meraih predikat ZI WBK,” pungkasnya.