BLORABARU
Beranda Info Publik Di Pawai Pembangunan Setwan Ingatkan “Jas Merah”

Di Pawai Pembangunan Setwan Ingatkan “Jas Merah”

BLORA, BLORABARU.COM – Karnaval Agustusan biasanya diisi dengan pawai budaya yang menampilkan kearifan budaya Nusantara. Bahkan tak jarang diisi dengan unjuk kebolehan dalam olah suara dan tari.

Namun tema karnaval Agustusan tahun 2023 yang diambil Sekretariat DPRD Kabupaten Blora ini lain, pasalnya para peserta tidak menampilkan pakaian adat nusantara.

Para peserta yang murni terdiri dari Seluruh Karyawan/Karyawati Sekretariat DPRD ini membawa tema JAS MERAH “jangan sekali sekali meninggalkan sejarah”, diawali teaterikal kerja paksa pada masa penjajahan di Indonesia.

Sebaian peserta memakai seragam penjajah Belanda lengkap dengan senjata, dan sebagian lain mengenakan pakaian warga biasa. Penampilan itu terasa menarik ketika mereka memperagakan praktik kerja paksa zaman dulu di tengah jalan. Mereka yang berperan sebagai rakyat biasa disiksa. Tangannya dirantai dan lehernya dibelenggu dengan kayu.

Sedangkan pemeran penjajah dengan berlagak kejam menyiksa rakyat jelata yang tidak berdaya. Sontak adegan itu membuat orang yang menyaksikannya merasa haru dan iba, sekaligus mengambil pelajaran bahwa perjuangan para pahlawan membebaskan diri dari belenggu penjajah amat berat.

Tidak itu saja, tampak replika kuda yang dikendarai pahlawan nasional Pangeran Diponegoro yang ditunggangi Sekretaris DPRD Kabupaten Blora, Catur Pambudi Amperawan yang memerankan tokoh nasional ini.

Ada juga peran sebagai bangsawan Indonesia yang memihak Belanda, karena kita semua tahu musuh bangsa kita bukan hanya bangsa lain, melainkan juga dari bangsa kita sendiri.

Para tentara Indonesia serta wanita-wanita berperan sebagai Palang Merah Indonesia, yang ketika penampilan didepan panggung kehormatan semuanya melebur bergabung menjadi satu setelah sang proklamator ( yang juga diperankan oleh karyawan)membacakan teks proklamasi.

Beberapa warga tampak memberikan komentar beragam yang positif, “Mewek….membayangkan perjuangan mereka jaman dulu. Alfatihah,” kata salah seorang warga, bahkan ada yang terbawa emosi, karena bagi beberapa warga membuat mereka berfikir bagaimana sulitnya hidup di masa penjajahan, dan nikmatnya hidup di zaman kemerdekaan.

Iapun mendoakan kepada para pejuang kemerdekaan yang telah gugur.

“Alfatihah buat para pejuang,” ungkap warga mendoakan para pahlawan.

Karnaval dengan tema perjuangan seperti ini perlu diangkat menurut Anna, koreografer setwan sekali sekali memang wajib diangkat dalam perhelatan.

“Berawal dari miris akan anak anak muda sekarang termasuk anak saya yang ternyata tidak tahu gambaran perjuangan di zaman penjajahan, tahu hanya dari pelajaran ataupun cerita tidak pernah melihat gambaran secara langsung”. pungkasnya.

Komentar
Bagikan:

Iklan