BLORABARU
Beranda Info Kesehatan Berikut Data Penyakit ISPA di Blora

Berikut Data Penyakit ISPA di Blora

BLORA, BLORABARU.COM – Meskipun angka kematian di Indonesia tergolong tinggi yang diakibatkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pneumonia namun sampai saat ini di Blora angka kasus kematian yang diakibatkan penyakit tersebut tidak ditemukan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, melalui Sub Koordinator bidang pencegahan dan penyakit menular, Sutik mengatakan Dinas Kesehatan selama ini menurunkan angka kematian dan kesakitan pada anak yang diakibatkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menurutnya, perlunya strategi pengendalian dengan penemuan tata laksana kasus, dilanjutkan kesiapsiagan karena dari ISPA bisa mengakibatkan pandemi influenza.

“Perlu diketahui, ISPA sendiri termasuk kategori penyakit menular karena batuk bisa menularkan ke orang lain sedangkan ISPA itu terdiri dari dua batuk yakni batuk biasa dan batuk pneumonia.” ungkap Sutik diruang kerjanya. Ditulis Sabtu, 24/6/2023.

Untuk itu pihaknya, melakukan pencarian batuk pneumonia karena angka kematiannya tinggi.

“Dari batuk itu, kita bisa mengkategorikan batuk yang pneumonia.” terangnya.

lebih lanjut katanya, Berdasarkan data jumlah kasus balita yang batuk pneumonia ada 45 anak, yang umur lebih dari 5 tahun ada 83.

Sedangkan untuk ISPA atau batuk biasa yang terjadi pada balita 4964 anak untuk umur diatas 5 sampai 9 tahun ada 5082 dan yang umur 9 sampai 60 tahun sebanyak 16.905 diatas umur 60 tahun ada 4018 orang.

“Alhamdulillah, untuk Blora selama ini kami belum menerima laporan akibat pneumonia yang meninggal. Biarpun angka kematian di Indonesia tinggi namun di Blora belum ada.” bebernya melanjutkan.

Kembali ia menerangkan penderita ISPA untuk biayanya tidak gratis. Karena ISPA berbeda seperti penyakit TBC, HIV dan lain lain karena ISPA sendiri sifatnya penyakit umum.

Namun demikian, ISPA dipengaruhi oleh cuaca dan kondisi tubuh untuk itu penderita  disarankan agar menjaga imunitas.

“Sebetulnya untuk pencegahan dan pengendalian pneumonia ada dua melalui pendekatan keluarga dan tata laksana.
Sedangkan pendekatan keluarga ada preventif dan promotif dan untuk tata laksana dengan melakukan diagnosis serta diberikan obat.” demikian penjelasan Sutik.

Komentar
Bagikan:

Iklan