Tidak ada pin yang di tentukan
Home Desa & Kelurahan Perajin Tusuk Sate P..

Perajin Tusuk Sate Punggur Masih manual

Perajin Tusuk Sate Punggur Masih manual

BLORA, BLORABARU.COM –  Ketika zaman berganti. Teknologi berkembang pesat, namun perajin tusuk sate di Blora, enggan menggunakan mesin- mesin teknologi modern itu untuk membuat tusuk satai. Bahkan hasil produksi secara manual menggunakan tangan ukuran tusuk sate pas, lebih rapi dan tentu lebih laku dijual.

Saat ditemui lingkarjateng Ganjar, warga Dusun Punggur, Desa Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, kabupaten blora menceritakan, tetap bertahan membuat tusuk sate secara manual menggunakan tangan dan menjemur di terik matahari.

‘’Cuaca panas dan lembab seperti ini tusuk sate cepat kering. Kalau cuacanya mendung atau bahkan hujan, kami menjadi kesulitan menjemur tusu satai itu,’’ ucapnya, Rabu (06/7).

Dia juga mengaku menekuni usaha pembuatan tusuk sate lantaran diwariskan oleh orang tuanya dan Setiap hari dia bisa membuat 10 ikat lebih.

“Genarsi kedua saya mas, nggak ada sawah dan kerjaan lagi, ini saya jadikan usaha harian dan sehari dapat menghasilkan 10.000 hingga 20. 000 tusuk sate, per ikat isinya 1000 sunduk,” ungkapnya.

Ganjar mengaku, sejumlah warga Dukuh Punggur memiliki usaha serupa menggunakan mesin. Tapi tusuk sate yang dihasilkan dari mesin tersebut ukurannya terlalu besar dan tidak bisa serapi buatan tangan langsung.

‘’Setelah itu tidak ada lagi yang mengunakan mesin. Mesin memang hasilnya cepat tapi tusuk satainya tidak bisa rapi,’’ ujarnya.

Selain dijual kepada pedagang sate di Blora, tusuk sate dari Dukuh Punggur dipasok ke Bojonogero dan Tuban, Jawa Timur dan Madura.

‘’Bisanya sudah ada yang mengambil sendiri di tempat kami. Jadi kami tidak perlu repot- repot menjual sendiri tusuk satai ke pasar,’’ tandasnya.

ganjar juga menambahkan pembuatan tusuk sate itupun tidak mengenal musiman. Penjualan stabil meskipun saat Hari Raya Kurban.

“Hampir tidak ada perbedaan antara hari biasa dengan saat Idul Kurban,’’ bebernya

Masripah salah perajin tusuk sate lainnya mengemukakan, satu ikat berisi 1000 batang tusuk sate dijual ke pedagang sate dengan harga Rp 12- 18 ribu.

Namun ia juga mengungkapkan bahwa pendapatan sebulan tidak pasti dan terkadang jumlah tusuk yang dipasok kepada pedagang tidak selalu sama.

‘’Cukuplah untuk menyekolahkan anak- anak, dan kebutuhan sehari hari,” tandasnya.

Ia,pun berharap ke pemerintah kabupaten Blora agar lebih memperhatikan pengrajin tusuk sate yang ada di perdukuhanya.

“Semoga dapat bantuan dari pemerintah dan lebih diperhatikan lagi, syukur- syukur dapat bantuan mesi,” imbuhnya.

SHARE

Komentar ditutup.


URL berhasil di salin
Data off atau jaringan lambat
Memuat content..